Kamis, 20 Desember 2012
It’s Our Fifth
Kabut menyelimuti setapak hingga langkah kita membeku.
Bulan kau tau, masih terus bertanya.
Dan aku tak bisa menemukan jawaban.
Mungkin ini mimpi.
Kembali nanti kau kan bangunkanku dari lelap panjang sembari mengecup rindu.
Mungkin ini mimpi.
Kembali nanti kita kan menatap aliran sungai-sungai akhir minggu yang bercumbu.
Mungkin...
Jalan ini bukan tanpa ujung.
Pada jalinan basah dedaunan yang menari manja.
Pada pertalian dinding-dinding yang menghujam hening.
Ku tulis pesan yang perlahan menjadi abu.
Sebuah keyakinan tentang menunggu.
Dan aku tak bisa menemukan jawaban.
Mungkin ini mimpi.
Kembali nanti kau kan bangunkanku dari lelap panjang sembari mengecup rindu.
Mungkin ini mimpi.
Kembali nanti kita kan menatap aliran sungai-sungai akhir minggu yang bercumbu.
Mungkin...
Jalan ini bukan tanpa ujung.
Pada jalinan basah dedaunan yang menari manja.
Pada pertalian dinding-dinding yang menghujam hening.
Ku tulis pesan yang perlahan menjadi abu.
Sebuah keyakinan tentang menunggu.
Catatan Kecil Disebuah Musim
Bukankah aku terus setia,
Menemani malam agar selalu terjaga hingga pagi menjelang..
Tapi malam mngecewakanku..
Bercumbu dengan lebat sang hujan..
Yang derainya mnghancurkan kerlip-kerlip bintang..
Gemuruhnya meredam kilau rembulan..
Tak mnyisakan apapun padaku..
Selain dingin dan kesunyian..
Digigir jendela yang tak mnawarkn pemandangan apapun kecuali kegelapan..
Kupunguti lagi lembar-lembar do'a, yang kemarin lupa kupanjatkan ..
Do'a sederhana yang tak banyak pinta..
"Tuhan… andai Engkau berkenan, maukah
Engkau meluangkan waktuMu sekedar tertawa bersamaku malam ini..."
Rabu, 19 Desember 2012
Karena Perpisahan Itu Indah Seperti Senja
S e n j a
Perpisahan itu hendaknya sederhana seperti senja
Sekalipun menandakan akhirnya hari,
namun kecantikannya selalu memukau hati
Siapa coba yang tak terpikat kecantikannya?
Bukan aku, tak juga kamu
Kita tak mampu menolak pesonanya
Dan bukan duka yang tersisa,
namun sebuah asa untuk berjumpa kembali…
Salju
Tak ada yang lain
Yang lebih putih di bulan Desember
Aku nanar menatap pepohonan
Karena ia menjelma menjadi dirimu
Dalam sengkarut jiwa
Yang menghapus jejak-jejak kaki
Bahkan ingatan akan sakura
Aku terbakar dalam dingin
Merepih jilatannya yang tak
berkesudahan
di dahan rantingmu
Aku siap terbang
Menjadi elang
Mengangkasa
dan mencumbu rahasiamu
Hitungan hari bersimbah detik-detik
Lalu ia terhenti selamanya
Minggu, 25 November 2012
Kau Yang Terjelma dari Tinta Kerinduaku
Coretan hati ku rangkai pada sehelai kanvas biru
Dengan selaksa tetesan tinta kerinduanku
Menuangkan jalan kehangatan cinta yang tertuju
Dalam derasnya aliran kerinduan yang tertuntun
Memang kian sukar mencipta kata yang terasa
Walau menggambar sketsa rindu yang menggerimis
Membasahi satu ruang sepi dipojok hati
Yang tertaut diantara asaku dan asamu
Ingin rasanya terus ku kanvaskan tinta kerinduan
Agar tak kembali kosong lembaran kehidupan hatiku
Menghapus kata yang terhampiri tentang rasa resah
Biar tak gamang secarik coretan kerinduan akan hadirmu
Wahai engkau yang terjelma dari tinta kerinduanku
Tetapkan hatimu selalu memberikan warna berbinar dalam hati
Bagai mentari yang memeluk dengan warna terang di siangku
Laksana rembulan yang mendekap warna gemerlap pada malamku
Menuangkan jalan kehangatan cinta yang tertuju
Dalam derasnya aliran kerinduan yang tertuntun
Memang kian sukar mencipta kata yang terasa
Walau menggambar sketsa rindu yang menggerimis
Membasahi satu ruang sepi dipojok hati
Yang tertaut diantara asaku dan asamu
Ingin rasanya terus ku kanvaskan tinta kerinduan
Agar tak kembali kosong lembaran kehidupan hatiku
Menghapus kata yang terhampiri tentang rasa resah
Biar tak gamang secarik coretan kerinduan akan hadirmu
Wahai engkau yang terjelma dari tinta kerinduanku
Tetapkan hatimu selalu memberikan warna berbinar dalam hati
Bagai mentari yang memeluk dengan warna terang di siangku
Laksana rembulan yang mendekap warna gemerlap pada malamku
Selasa, 28 Agustus 2012
Tangkai Cinta Yang Tegar
Aku memanggilmu dalam untaian do'a
dengan senandung diorama yang indah
kupeluk dirimu dalam dekapan wangi cinta
diatas lembaran sajadah
Kupersembahkan seikat rindu yang membias
untukmu duhai ksatria yang berjiwa ikhlas
lihatlah garis garis tangan yang tergambar jelas
menguatkan langkah kita yang terbatas
menuju asa yang sempat terlepas
untukmu duhai ksatria yang berjiwa ikhlas
lihatlah garis garis tangan yang tergambar jelas
menguatkan langkah kita yang terbatas
menuju asa yang sempat terlepas
Melati putih yang mulai mekar
merengkuh cahaya yang berbinar
dengan tangkai cinta yang tegar
setia menantimu dengan hati sabar
merengkuh cahaya yang berbinar
dengan tangkai cinta yang tegar
setia menantimu dengan hati sabar
Rindu yang terus mengalir
ku tuang dalam syair
sampai engkau hadir
menjadi pelipur getir
dan menjelma keindahan takdir
ku tuang dalam syair
sampai engkau hadir
menjadi pelipur getir
dan menjelma keindahan takdir
Aku selalu menunggu
dengan bermunajad pada Sang Maha Penentu
hingga semua muzaik ini menjadi satu
dalam bingkai yang tak semu
menjadikan malam malam kita syahdu
dengan bermunajad pada Sang Maha Penentu
hingga semua muzaik ini menjadi satu
dalam bingkai yang tak semu
menjadikan malam malam kita syahdu
Langganan:
Postingan (Atom)




