Senin, 28 Januari 2013

Berlabuh














Berlabuh di ujung dermaga kehidupan
Merajut asa yang tertinggal
Menyulam untaian kasih asmara
Ku lelah melayar kisah terulang
Yang rentan berembus terbawa waktu
Sejuta kenangan t’lah kukaramkan
Menanti ufuk timur nan merebak
Bersenandung rindu
Menebar pesona impian
Kubiarkan kala berlalu
‘tuk ungkapkan cinta terpendam
Memenuhi hasrat berselindung gemuruh

Minggu, 13 Januari 2013

Tentang Musim dan Kita


 













Kamu ingat percakapan kita waktu itu?
Tentang pagi yang selalu memberi harapan dan semangat, tentang sore yang hangat, dan tentang malam yang membuat kita terlelap...

Dengan mata berbinar kamu bercerita, tentang pagi selalu memberi makhuk hidup kesempatan untuk memulai hari, untuk memulai dari awal lagi ketika kegagalan menghampiri....

Aku juga menyukai pagi...
Pagi memberiku alasan untuk berjuang lagi...
Pagi mengingatkankanku bahwa Tuhan masih memberiku hari yang baru...

Kemudian kamu bertanya, "Lalu tentang sore dan malam?"
Jingga pada sore adalah kehangatan, seolah memberiku sedikir waktu bernafas untuk melanjutkan perjalanan....
dan malam...
Itu cara Tuhan membuat kita berhenti dari semua apa yang kita usahakan dari pagi...
Gelap memberikan kesempatan kita untuk merenung, apakah semua sudah sesuai dengan jalurnya??

Tapi yang ku berikan padamu hanya senyuman...
Sebuah senyuman...
:)

Kamis, 20 Desember 2012

KENANGAN T’LAH TERBUKA












Merangkai sajak pertama untuknya,
Atas kekaguman yang terindah,
Atas lahirnya jiwa yang tak pernah ada,
Mengusik sanubari yang tertidur.
“Biar waktu cepat berlalu,
Aku selalu menunggumu…”
Bait yang terukir dalam,
Menjadi garis tangan yang bisu.
“Dalam hidup engkau meninggalkanku,
Dalam mimpi engkau datang padaku…”
Bait yang selalu disenandungkan,
Saat mengingat sahabat…
Jika mungkin kembali sejengkal waktu,
Kan terabadikan persahabatan ini,
Kan terjaga dari kefanaan rasa itu,
Hingga kenangan ini dibuka kembali.


Tuhanku, apakah Engkau
akan menelantarkan
harapan-harapanku.
Ia terbang
dalam naungan kemurahan-Mu.

Luruh

































Di rentang tangan mana lagi bisa kusisipkan cinta yang menggebu?
Di kepala siapa lagi bisa kuselipkan bayangan yang enggan menyirna?
Di paru paru mana lagi bisa kutitipkan separuh nafas sepanjang umurku?
Langkah kaki siapa lagi yang bisa kuikuti?
Dimana setiap derap pijakannya kuawasi dengan hati.
Di proyeksi mata siapa lagi bisa kuhamparkan senyumku?
Di telinga siapa lagi bisa kuterbangkan bisik yang mengalir dari suaraku?
Saat semua mewujud kamu.
Luruh semua pertanyaanku

AKU, HUJAN, KAMU















Hujan ini ambigu...
Antara tengah menyindir ku
yang mengirimkan senyuman atas maaf mu,
atau sedang ikut bersedih bersama ku. 
Tunggu, siapa bilang aku bersedih?
Tidak.  Aku tidak sedang bersedih.
Hanya airmata ini saja yang tidak tahu diri.
Terus jatuh dan tak mau berhenti.

Entahlah


















Kepada langkah yang tak henti melangkah
Tanpa kata menyerah
Aku tak akan sudah
Tak akan  lelah
Kepada hati yang masih merah serupa darah
Adakah betah menanti sang indah ?
Dalam waktu yang lirih terpapah
Berharap mudah
Menyambut janji tanpa resah
Bersama ridho Allah

Let Rain Fall Down


 


Biarkan saja mendung memenuhi langit yang kamu pandang hari ini,

Biarkan saja rintiknya memantul di kaca jendela kamar tempat kamu menengadahkan kepala,

Biarkan saja dinginnya menggigit kulitmu yang terlepas pelukku,

Biarkan saja semuanya berjalan seperti yang seharusnya...

Percaya saja, 


The sun will come out tomorrow...